Kamis, 06 Juni 2013

Kosakata Gaul di Indonesia (Slank of Indonesia)



Bukan hanya di luar negeri yang ada slang-nya, di Indonesia juga ada, tapi disebut bahasa gaul. Dan bahasa-bahasa di bawah ini dijamin tidak akan ditemukan di dalam kamus bahasa Indonesia (yaiyalah....)Yah begitulah, di Indonesia yang punya lebih dari 600 bahasa (wiiih....gilaaa...) dan 33 provinsi, sudah pasti banyak bahasa-bahasa nyeleneh dan terkesan unik untuk diucapkan. setahu saya sih seperti dibawah ini:

alay = singkatan dari anak layangan, maksudnya anak yang suka nongkrong ga jelas di pinggrir jalan, yang terkesan gak punya kerjaan dan bergaya sok keren dan sok artis, kalo nulis sesuatu (misalnya nulis SMS atau update status, anak ini tulisanyya kecil gede dan pake angka-angka, contoh= 'yAa 91tU d333gH' .....hanya mereka dan Allah yang tahu) padahal
norak.blagu= artinya sok menguasai sesuatu dan hampir sama dengan sombong, tapi sifat ini lebih parah dari sombong karena di juga sok tahu, sok menguasai seakan tidak ada orang lagi di dunia ini yang lebih hebat darinya.
curcol= sama dengan curhat, dan curhat itu singakatn dari Curahan Hati.
bohay= singkatan dari Bodi Aduhay.
pecicilan= suka menggoda lawan jenis.
kere= artinya gak punya duit.
kuper= singkatan dari Kurang Pergaulan, artinya orang yang suka menyendiri dan sedikit bergaul akibatnya tidak mengerti keadaan disekitarnya.
supel= mudah kenal dan akrab dengan orang lain, dan nyambung dalam pembicaraan.
ganjen= sinonim/ persamaan dari genit, yang artinya suka menggoda lawan jenisnya baik dengan rayuan, sentuhan atau yang lainnya yang membuat orang lain risih.
lebay = berlebihan. contoh : lebay banget sih loe! : berlebihan banget si loe!
ja'im= singakatan dari Jaga Image, artinya orang selalu berusaha tampil baik dan gak malu-maluin dihadapan orang lain atau yang dicintai, walaupun terkadang kenyataannya tidak.
judes= jutek, artinya orang yang suka emosi dan marah-marah.
unyu-unyu= sebutan untuk segala sesuatu yang terlihat lucu dan imut.
GR (ge-er)= singkatan dari Gede Rasa (orang yang memiliki rasa percaya diri yang berlebihan), artinya orang yang selalu merasa disanjung, merasa dipuji atau semacamnya, padahal pujian atau sanjungan itu belum tentu untuk dia.
BT (be-te)= singkatan dari Bad Temprated, artinya keadaan hati yang sedang buruk. sama juga dengan Bad Mood. Contoh:gua lagi BT nih...
PD (pe-de)= singakatan dari Percaya Diri. Contoh: pede banget sih loe!
pitak= rambut kepala bagian belakang yang rontok/ tidak ada rambutnya.
jenong= dahi kepala yang menonjol keluar (seperti kepala ikan lohan).
Demplon= sama dengan menor, yang artinya berdandan dengan make-up yang terlalu tebal sehingga terlihat aneh.
GWS= singkatan dari bahasa Inggris ‘Get Well Soon’ yang artinya semoga lekas sembuh.
narsis= menunjukkan kelebihan diri dengan cara beraksi, bergaya, berfoto;yang menunjukkan kelebihan diri atau sisi baik yang dimilikinya.
iseng= bersikap jahil  atau bisa juga melakukan sesuatu tanpa ada kepentingan.
jeles= sebenernya bahasa Inggris yaitu Jealous, artinya cemburu.
nerfes= dari bahasa Inggris Nervous, artinya gugup.
ngeles= artinya mengalihkan topik pembicaraan karena ingin menghindari pembicaraan itu. atau bisa juga orang yang mencara-cari alasan ketika orang lain bertanya tentang dirinya.
manyun= sama dengan monyong.
jereng= istilah untuk kelainan fungsi mata yang mana  bola mata hitamnya bisa menyatu ke tengah mata.
comel= cerewet, suka berbicara tanpa henti, tapi ada juga yang mengartikan comel sama dengan unyu-unyu.
kamseupay= singkatan dari Kampungan Sekali Uh Payah. artinya adalah orang ini terkesan kampungan ,baik dalam gaya ataupun sifatnya.
kepo= pengen tau aja, udah jelas lah, anak kepo ini dalam hal apapun apalagi gosip pasti dia rasa ingin tahunya sangat besar, dan pengen cari tahu dan pengen tahu urusan orang lain.
woles= nyantai. contoh= woles aja dong bro! : nyantai aja dong bro!.
sotoy= artinya sok tahu. padahal dia tidak tahu.
songong= bersikap tidak baik/ tidak menghormati pada orang yang lebih tua atau orang yang dihormati.
sedeng= gila atau gak waras. ya u know laah... gila udah ga normal otaknya.
parno= keluaran dari kata 'paranoid' yang artinya rasa takut yang berlebihan, yang mana sebelum melakukan sesuatu dia sudah terbayang dan takut akan resikonya, padahal belum tentu terjadi.
rempong= ribet, atau suka sibuk sendiri. Orang yang karakternya suka panik dan heboh sendiri.
tengsin= gengsi.
galau= suatu keadaan hati yang sedang bersedih dan tidak menyenangkan karena memikirkan sesuatu.
tengil= anak yang tidak tahu malu.
oneng= o'on, blo'on, bodoh, bego.
ilfiil= singkatan dari Ilang Feeling, artinya hilangnya rasa kepada seseorang, baik itu hilangnya rasa kagum, hormat atau cinta.
sayko= sakit jiwa, tidak waras.
ngeyel= tidak bisa/ tidak mempan dinasihati orang lain, bersikap sesuai kehendaknya sendiri.
budek= sama dengan conge', sama dengan tuli/ tidak bisa mendengar.
melting= artinya 'meleleh' karena rasa kagum (dalam bahasa inggris) ada juga yang bilang singkatan dari melayang tinggi. (sama dengan berkhayal tentang sesuatu yang indah).
mupeng= iri, (melihat sesuatu yang membuat iri).
hoax= kabar bohong
ngondek= sinonim dari kemayu, bersikap seperti perempuan (banci lah istilahnya)
abal-abal =barang palsu
ajib= mantap, bagus, oke, enak.
anjir= wow, alamak
ambigu= kalimat yang mmepunyai dua penafsiran atau makna.
gan/ agan= sama dengan panggilan 'bro, sis' di internet.
baper= singkatan dari 'bawa perasaan'. Maksudnya tuh, apa-apa selalu dibawa perasaan. Misalnya ada cowok atau cewek yang lo suka, tiba-tiba dia say 'hello' ke loe, nah loe pikir dia naksir atau tertarik sama loe, padahal mah cuma nyapa biasa. Nah itulah baper.
peres= bo'ong/munafik.
PHP= singkatan dari 'Pemberi Harapan Palsu'. Namanya juga harapan palsu, ya di segi  apa aja, misalnya cowok sok2 deketin kita eh tiba-tiba kita ditinggal gitu aja, atau atau dia selama ini udah romantis banget ke kita tapi gak jjuga dipacarain, cuma dimaenin doang, bisa juga dia janji mau nikahin kita tapi nyatanya nggak. Pokoknya yang namanya orang PHP ini berhubungan dengan kata bohong dan selalu ngumbar harapan indah ke kita.

Jawaban Mengenai Hakikat Ilmu Dalam Filsafat

YAYASAN MA’ARIF SYAIKHONA MOH. CHOLIL
STAI SYAIKHONA MOH. CHOLIL
Prodi : 1. Pendidikan Bahasa Arab; 2. Ekonomi Syariah; 3. Hukum Pidana Islam

UJIAN AKHIR SEMESTER

Mata Kuliah: Filsafat Ilmu
Semester: II
Prodi: Ekonomi Syariah
Sifat: Teks Home
Kriteria: Jawaban Pertanyaan 1-2.

Sebelum menjawab pertanyaan, disini telah diberikan tambahan, bahwa filsafat ilmu merupakan kajian atau telaah secara mendalam terhadap hakikat ilmu. Oleh sebab itu filsafat ilmu ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu tersebut yang telah digolongkan menjadi beberapa bagian, seperti:
Epistimologi (Cara Mendapatkan Pengetahuan)
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?
Bagaimana prosedurnya?
Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan dengan benar?
Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri?
Apa kriterianya?
Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
Tahapan Ontologi (hakikat Ilmu)
Objek yang telah ditelaah ilmu?
Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut?
Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?
Bagaimana prosedurnya?

Kedua kategori pertanyaan tersebut merupakan landasan-landasan ilmu, yakni kelompok pertama merupakan landasan ontologi, kedua adalah epistemologi dan aksiologi. Berikut penjelasannya.
1.      Memang sifat dasar/ kriteria dari sebuah ilmu adalah sifat dimana seseorang tidak begitu saja percaya pada kebenaran ilmu tersebut. Tidak semua ilmu bisa dipercaya oleh manusia, hal itu sering dialami oleh orang awam sama sekali, atau orang yang sudah lama mengenyam ilmu sebelumnya, apalagi mereka yang sangat fanatik, memegang teguh terhadap sesuatu atau orang yang berfikir konservatif. [Q1]Sebenarnya ilmu itu tidak akan sampai pada level atau tingkatan ‘benar’, karena kebenaran itu sifatnya nisbi, begitupula ilmu, pencapaian kebenaran ilmu paling jauh mungkin hanya ‘mendekati kebenaran’, namun secara personal, ilmu bisa dianggap ‘benar’ jika sesorang sudah mengenal, percaya, mempelajari, membuktikan dan yakin akan ilmu tersebut. [Q2]Adapun proses dan faktor penilaian dalam menentukan kebenaran pada ilmu yang sesuai dengan kriteria diatas  bisa diperoleh dari tiga komponen, yaitu:
a.       Diri sendiri
b.      Keluarga, dan
c.       Lingkungan
Berikut prosesnya:
a)      Kalau ditinjau dari faktor diri sendiri (individu), kebenaran ilmu itu bisa diperoleh (atau) ilmu bisa dikatakan benar jika ada rasa tertarik pribadi dari awal untuk mempelajarinya dan ia juga akan mantap mengatakan ilmu itu ‘benar’ ketika ia sudah menguasainya dengan sempurna.
b)      Kedua dari faktor keluarga, yaitu kepercayaan pada ilmu yang sudah ditanamkan oleh kedua orang tua sejak kecil, dan penanaman ilmu di keluarga ini terbukti sangat mempengaruhi bukan hanya di segi lahirnya saja, tapi dari segi batinnya pun bisa terarah dengan sendirinya karena penanaman ilmu dari orang tua yang sangat intens, bersifat dini dan kontinu, mengingat pola pikir anak yang masih polos dan belum memikirkan hal apapun yang menyangkut ilmu.
c)      Ketiga, adakalanya karena faktor lingkungan sekitar, dimana sebagian besar atau seluruhnya mempercayai ilmu tersebut, dan (atau) salah satu yang mempercayai ilmu tersebut ternyata orang yang mereka percaya, sehingga mereka juga ikut tertarik, bisa dan cepat menyatu dengan alur ilmu tersebut dan akhirnya mereka menyebut dan yakin bahwa ilmu yang dipelajarinya itu “benar”. [Q3]Dan menurut kami, kriteria itu dianggap benar bila berdasarkan faktor-faktor tersebut.
(epistemologi: cara mendapatkan ilmu pengetahuan). [Q4]Dan yang dimaksud ‘benar’  adalah sesuatu yang sudah mencapai kesempurnaan, atau sesuatu yang bernilai positif di mata seseorang. [Q5]Adapun proses pencarian kebenaran sebuah ilmu dalam filsafat itu yaitu:
a.       Lebih dahulu memiliki basic teguh pendirian, mawas diri dan tidak mudah terdoktrin oleh spekulasi orang lain yang tidak sepemikiran, ini sebagai bekal awal untuk ke tahap selanjutnya.
b.      Interest dan kemauan untuk mengkaji dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh dan kontinu.
c.       Pembuktian ilmu dengan cara observasi, eksperimen, uji coba dan yang sejenisnya, dan yang terakhir adalah timbulnya keyakinan pada ilmu yang telah dipelajari.

2.      Proses hakikat ilmu:
[QA]. (tahapan ontologi: hakikat ilmu) Objek yang ditelaah ilmu dalam filsafat adalah segala sesuatu yang bisa dirasakan oleh panca indera, yang ada di dalam ruang dan waktu.
[QB]. (tahapan ontologi: hakikat ilmu) Wujud hakikinya berupa sesuatu yang hidup dan sesuatu yang tak hidup. Sesuatu yang hidup yaitu manusia, hewan dan tumbuhan, seperti perempuan dan laki-laki, pohon-pohon dan berbagai macam hewan seperti sapi, kelinci dan lain sebagainya, sedangkan yang tak hidup berupa benda-benda yang mati, artinya sesuatu tidak memiliki sifat dan kriteria sama seperti sesuatu yang hidup berupa bernafas, bersuara, bergerak, tumbuh dan berkembang biak, contohnya seperti batu, kertas, dan lain sebagainya.
[QC]. (tahapan epistemologi: cara mendapatkan ilmu pengetahuan). Objek yang hakiki tadi sangat erat hubungannya dan memang seharusnya dapat dijangkau daya tangkap manusia, karena tanpa sesuatu yang bisa ditangkap panca indera, tentu manusia tidak bisa merasakan, memikirkan, mengembangkan dan membuktikan hasil objek tersebut supaya menjadi sebuah ilmu penengetahuan yang selanjutnya bisa diaplikasikan dan disebarluaskan dalam kehidupan.
[QD]. (tahapan epistemologi: cara mendapatkan ilmu pengetahuan). Dalam perspektif ilmuwan barat, untuk memperoleh ilmu terdapat tiga faham, yaitu: Empirisme (cara memperoleh ilmu melalui pengalaman dan penginderaan), Rasionalisme (cara memperoleh ilmu bersumber dari akal), Fenomenalisme (cara memperoleh ilmu melalui pengalaman yang dihubungkan dengan akal) dan Insionisme (cara memperoleh ilmu melalui institusi sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi yang meliputi sebagian saja yang diberikan oleh analis). Itu semua merupakan proses awal dari masing-masing faham yang pada akhirnya dibutuhkan pembuktian secara ilmiah.
[QE]. (tahapan epistemologi: cara mendapatkan ilmu penegtahuan). Prosedur yang memungkinkan ditimbanya sebuah ilmu (menurut kitab Ta’limul Muta’allim):
a.       Memiliki kecerdasan, walaupun tingkat kecerdasan sesorang berbeda-beda, ini sebagai bekal utama terserapnya ilmu dengan baik.
b.      Memiliki interest, semangat atau kemauan.
c.       Memiliki kesabaran. Karena dalam menuntut ilmu itu memakan waktu yang tidak sebentar, dan seseorang diharapkan mampu untuk menghilangkan rasa jenuh atau bosan dengan bersikap sabar dan berpikiran positif untuk menetralisir kebosanan.
d.      Memiliki budget atau biaya yang memadai.
e.       Perlu waktu, karena dari semua upaya seseorang dalam menimba ilmu agar mendapatkan wawasan luas dan mendapat kebenaran baginya tentu semua itu butuh waktu untuk mendapatkannya, terlebih lagi jika seseorang ingin mendapatkan hasil yang maksimal.

3.      Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang memebahas tentang keberadaan ilmu itu sendiri. Seiring berjalannya waktu, ilmu-ilmu tersebut mulai memisahkan diri dari filsafat karena faktor kemajuan dan perkembangan ilmu yang pesat. Filsafat seakan sudah tidak berguna lagi bagi ilmu, dan ilmu sudah terbukti dapat memecahkan berbagai masalah. Setiap jenis ilmu pasti terdapat filsafatnya, sehingga jumlah ‘varian’ fisafat ilmu itu sama banyaknya sesuai dengan jenis ilmu-ilmu yang ada. Ilmu-ilmu tersebut dapat digolongkan menjadi tiga bagian:
a.       Ilmu deduktif (ilmu-ilmu formal)
b.      Ilmu-ilmu induktif (ilmu-ilmu empiris)
c.       Ilmu-ilmu reduktif (sejarah, dsb. ).
Dalam ilmu ekonomi, kita mengenal dua sistem ekonomi, yaitu:
a.       Ekonomi konvensional
b.      Ekonomi syariah
Ekonomi konvensional adalah sistem ekonomi yang kegiatannya berdasarkan kepada bunga, sedangkan ekonomi syariah adalah sistem ekonomi yang kegiatannya berdasarkan pada hukum islam (bagi hasil).

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa setiap bidang ilmu pasti ada filsafatnya, tak terkecuali dengan ekonomi syariah. Filsafat ilmu dan ekonomi syariah juga memiliki korelasi yang jelas, bahwa filsafat ilmu membahas tentang ekonomi syariah yang hakiki, mulai dari filosofinya, bagaimana kriteria ekonomi syariah, perbedaan ekonomi syariah dengan ekonomi konvensional, dan sejarah muncul dan berkembangnya ekonomi syariah, sedangkan teori yang lebih mendalam tidak dibahas dalam filsafat ekonomi syariah.